BAB 1
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Kontruktivisme :
kontruktivisme berkembang dalam rangka mengatasi proses pendidikan yang pada
umumnya dilakukan melalui transfer pengetahuan dari guru kepada siswa. Pendidikan
kontruktivisme memandang pendidikan (mengajar) bukan sebagai kegiatan
menyampaikan pengetahuan
Era globalisasi
menuntut adanya berbagai perubahan. Demikian juga bangsa Indonesia yang saat
ini terjadi perubahan besar-besaran yang disebabkan oleh pengaruh dari luar
maupun dalam negeri. Kesemuanya diatas memerlukan kemampuan warga Negara yang
mempunyai bekal ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang berlandaskan pada
nilai-nilai keagamaan dan nilai-nilai budaya bangsa
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa yang
dimaksud dengan landasan pendidikan kontruktivisme
2.
Apa yang dimaksud dengan pendidikan pancasila
C.
Tujuan
1.
Untuk mengetahui
apa yang dimaksud landasan pendidikan kontruktivisme
2.
Untuk mengetahui
apa yang dimaksud demgan pendidikan Pancasila
BAB II
PEMBAHASAN
A. Landasan pendidikan Kontruktivisme
Kontruktivisme :
kontruktivisme berkembang dalam rangka mengatasi proses pendidikan yang pada
umumnya dilakukan melalui transfer pengetahuan dari guru kepada siswa. Para
kontruktivis ingin mengubah agar siswa belajar melalui suatu proses dengan
cara-cara yang bermakna memperkaya dan memungkinkan siswa menginterpretasikan
alam sememesta dengan pengertian ilmiah. Kontruktivisme didukung oleh impirisme
dan pragmatism. Adanya yang berpendapat bahwa kontruktivisme mengandung bahaya
yang mengarah ke empirisme ke relativisme
Otologi. Kontruktivisme
tidak mengetahui apa sesungguhnya subtsnsi realitas ini, mereka tidak tertarik
atas persoalan tersebut. Bagi mereka, realitas tidak pernah ada secara terpisah
dari pengamat (subjek), yang diketahui bukan realitan “disana” yang berdiri
sendiri, melainkan kenyataan sejauh dipahami dikontruksi oleh subjek pengamat.
Karena itu realitas bersifat plural.
Manusia : manusia
dituntut aktif membangun sendiri pengetahuannya. Eksistensi dsn proses menjadi
manusia berada dalam konteks interaksi dengan lingkungannya. Epistomologi :
sumber pengetahuan adalah dunia luar, tapi dikontruksi dari dalam diri
individu. Kritria kebenaran pengetahuan diletaka pada viabilitas, karena itu
pengetahuan bersiafat subjektif, tidak dapat ditransfer begitu saja,
pengetahuan belum final atau masih berkembang, dan bersifat relative. Sejalan
dengan ini bagi mereka juga bersigfat relatif.
Pendidikan
kontruktivisme memandang pendidikan (mengajar) bukan sebagai kegiatan
menyampaikan pengetahuan, melainkan membangtu siswa berpikir secara benar
dengan membiarkannya berpikir sendiri. Mengajar adalah berpartisipasi dengan
pelajar dalam mengkontruksi pengetahuan, membuat makna, mempertanyakan
kejelasan, bersikap kritis, dan mengembangkan justifikasi.
Tujuan pendidikannya lebih mengutamakan
perkembangan konsep dan [pengetahuan yang mendalam sebagai hasil kontruksi
aktif siswa. Kurikulumnya merupakan program aktifis dimana pengetahuan dan
keterampilan bisa dikontruksi. Kurikulum buklan bahan yang sudah jadi, melainkan
lebih merupakan permasalahan yang harus dipecahkan siswa. Metode:
mempertimbangkan multimetode untuk dipilih, sebab siswa mempunyai caranya
sendiri untuk mengerti. Selain itu, pengetahuan dibangun secara individual dan
sosial maka belajar kelompok maka dikembangkan. Perana guru siswa: peran duru
adalah sebagai mediator dan fasilitator dalam membantu siswa belajar. Guru dan
siswa berperan sebagai mitra, siswa harus bertanggungjawab atas hasil
belajarnya.
B. Landasa Pendidikan Pancasila
(Pendidikan Nasional)
A. Dasar
Pemikiran Pendidikan Pancasila
Era globalisasi
menuntut adanya berbagai perubahan. Demikian juga bangsa Indonesia yang saat
ini terjadi perubahan besar-besaran yang disebabkan oleh pengaruh dari luar
maupun dalam negeri. Kesemuanya diatas memerlukan kemampuan warga Negara yang
mempunyai bekal ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang berlandaskan pada
nilai-nilai keagamaan dan nilai-nilai budaya bangsa.
B. Landasan
Pendidikan Pancasila
1. Landasan Historis
Di
dalam kehidupan bangsa Indonesia tersebut prinsip hidup yang tersimpul di dalam
pandangan hidup atau fisafat hidup bangsa (jati diri) yang oleh para pendiri
bangsa/Negara dirumuskan dalam
rumusan sederhana namun mendalam
yang meliputi lima prnsip, yaitu Pancasila.
2. Landasan Kultural
Bangsa
Indonesia memiliki kepribadian tersendiri yang tercermin di dalam nilai-nilai
budaya yang telah lama ada. Nilai-nilai budaya sebagai nilai dasar berkehidupan
berbangsa dan bernegara dirumuskan dalam Pancasila.
3. Landasan Yuridis
Undang-undang
RI Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem
Pendidikan Nasional, Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 1999
tentang Pendidikan Tinggi, Keputusan Dirjen Dikti Nomor 265
Tahun 2000 mengatur tentang perlunya mata
kuliah Pendidikan Pancasila.
4. Landasan Folosofis
Nilai-nilai
Pancasila merupakan dasar
filsafat Negara, maka
dalam aspek penyelenggaraannya Negara harus bersumber
pada nilai-nilai Pancasila termasuk system
perundang-perundangan di Indonesia.
3. Tujuan Pendidikan
Pancasila
Pendidikan
Pancasila bertujuan untuk menghasilkan peserta didik yang beriman dan bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berperikemanusiaan yang adil dan beradab, mendukung
kerakyatan yang mengutamakan upaya mewujudkan suatu keadlan social dalam
masyarakat
BAB III
PENUTUP
A.
Simpulan
a. Landasan
Pendidikan KOntruktivisme
Kontruktivisme
didukung oleh impirisme dan pragmatism. Adanya yang berpendapat bahwa
kontruktivisme mengandung bahaya yang mengarah ke empirisme ke relativisme. Pendidikan
kontruktivisme memandang pendidikan (mengajar) bukan sebagai kegiatan
menyampaikan pengetahuan, melainkan membangtu siswa berpikir secara benar
dengan membiarkannya berpikir sendiri
b. Landasan
Pendidikan Pancasila
1). Dasar Pemikiran Pendidikan Pancasila
Era globalisasi
menuntut adanya berbagai perubahan, sehingga pendidikn pancasila dibutuhkan.
2).
Landasan Pendidikan Pancasila
a).
Landasan Historis
b).
Landasan Kultural
c).
Landasan Yuridis
d).
Landasan Filosofis
c.
Saran
Pemahan
tentang kandasan pendidikan kontruktivisme dan landasan pendidikan pancasila
sangat dibutuhkan karena agar para siswa mengetahui apa yang dimaksud dengan
landasan pendidikan kontruktivisme dan landasan pendidikan pancasila, karena kemajuan
zaman pun berpengaruh terhadapa pengetahuan siswa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar