Senin, 11 Januari 2016

Kebudayaan Islam di Indonesia

Kebudayaan Islam
Teri masuknya dan berkembambangnya kebudayaan islam di Indonesia
Proses penyiaran agama islam di Indonesia dilakukan dengan berbagai cara, selain perdagangan, seperti melalui perkawinan, politik, pendidikan, kesenian dan tasawuf sehingga mendukung meluasnya ajaran islam.
1.      Perdagangan
Para pedagang islam dari arab, Persia dan india, telah ambil bagian dalam perdagangan di Indonesia sejak abad ke-7M. hasil ini menimbulkan jalinan hubungan dagang antara masyarakat indoneia dengan para pedagang Islam. Disamping beragang mereka mengajarkan agama dan budaya islam. Proses asimilasi melalui perdagangan sangat menguntungkan dan lebih efektip. Apalagi yang terlibat perdagagan bukan hanya masyarakat bawah, melainkan juga golongan atas seperti kaum bangsawan dan raja.
2.      Perkawinan
Para pedagang islam melakukan kegiatan perdaganga dalam waktu yang lama, banyak diantara mereka yang hidup menetap dan mempererat hubungan dengan penduduk pribumi dan kaum bangsawan. Jalinan hubungan  yang baik ini kadang diteruskan dengan adanya perkawinan antara kaum pribumi dengan para pedagang islam. Melalui perkawinan inilah lahir seorang muslim sebagai cikal bakal terbentuknya masyarakat muslim dengan kebudayaan islam.
3.      Politik.
Pengaruh kekuasaan seorang raja sangat berperan besar dalam proses islmamisasi. Ketika seorang raja memeluk agam islam, maka rakyatnya juga akan mengikuti jejak rajanya. Rakyat memiliki kepatuhan yang tinggi dan seorang raja selalu menjadi panutan bahkan tauladan bagi rakyatnya. Setelah tersosialisasinya agama islam, maka kepentingan politik dilaksanakan dengan perluasan wilayah kerajaan yang diikuti dengan penyebaran agama.
4.      Pendidikan
Para ulama, kiyai, dan santri-santri memiliki peranan penting dalam penyebaran agama dan budaya islam. Mereka melakukan siar melalui pendidikan yaitu dengan mendirikan pondok-pondok pesantren. Dari pesantren inilah para santri mengembangkan agama islam kepada masyarakat dan membangun temmpat ibadah.. pesantren-pesantren yang didirikan bertujuan agar lebih mempermudah penyebaran dan peahaman agama islam.
5.      Kesenian
Saluran kesenian dapat dilakukan dengan engadakan pertunjukan seni gamelan seperti yang terjadi di Jogjakarta, solo, Cirebon, dan lain-lain. Seni gamelan ini dapat mengundang masyarakat untuk berkumpul dan selanjutnya dilaksanakan dakwah keagamaan. Disamping gamelan juga terdapat seni wayang. Melalui cerita-cerita pewayangan, para ulama menyisipkan ajaran-ajaran agama islam, sehingga masyarakat lebih mudah memahaminya.
6.      Tasawuf
Para ahli tasawuf hidup dalam kesederhanaan, mereka selalu menghayati kehidupan masyarakatnya dan hidup bersama ditengah-tengah masyarakat. Para ahli tasawuf biasanya memiliki keahlian yang dapat membantu masyarakat, seperti ahli dalam menyembuhkan penyakit. Penyebaran islam yang mereka llakukan disesuaikan dengan kondidsi, alam pikiran dan budaya masayarakat pada saat itu, sehingga dengan mudah ajaran islam dapat diterima oleh masyarakat.


Melalui berbagai saluran diatas, islam dapat diterima dan dan berkembang pesat sejak sekitar abad ke-13M. alasannya adalah sebagai berikut:
o  Islam bersifat teerbuka, sehingga penyebaran agama islam dapat dilakukuan oleh siapa saja atau oleh setiap muslim.
o  Penyebaran dilakukan secara damai.
o  Islam tidak membedakan kedudukan dalam masyarakat
o  Uapacara-upacara  dalam agama islam dilakukan secara damai.
o  Ajarannya berupa untuk menciptakan kesejahteraan kehidupan masyarakat dengan adanya kewajiban zakat bagi yang mampu.

Pengaruh kebudayaan islam dalam berbagai sector kehidupan masyarakat di Indonesia.
Munculnya kerajaan islam pertama di Indonesia yaitu kerajaan samudra pasai mempunyai pengaruh besar terhadap berdiri dan berkembangnya kerajaan dan kebudayaan islam pada masa berikutnya. Budaya islam telah berpengaruh dalam berbagai aspek kehisupan bangsa Indonesia. Namun dalam perkembangan kebudayaan islam diberebagai daerah di Indonesia, pola dasar kebudayaan setempat yang beersifat tradisional masih sangat kuat, sehingga terdapat suatu bentuk dan wujud perpaduan budaya tradisional Indonesia dengan budaya islam disebut akulturasi budaya. Perpaduan ini terlihat dengan jelas pada hasil budayanya, seperti seni bangunan, aksara atau seni rupa, seni sastra, dan lainnya.  
Disamping hasil-hasil udaya tersebut perkembangan tradisi islam di Indonesia dapat diketahui dari kehidupan sosial dalam masyarakat di berbagai daerah. Misalnya, tradisi islam dalam kehidupan sosial masyarakat tidak mengenal kasta seperti yang terdapat dalam kehidupan sosial mayarakat Hindu. Bahkan berdasarkan ajaran islam tidak ada golongan-golongan dalam kehidupan sosial masyarakatnya, setiap manusia memiliki hak dan derajatnya yang sama.
Adanya persamaan derajat dan hak ini menyebabkan perkembangan tradisi islam di Indonesia semakin pesat, terutama pada masyarakat daerah pesisir atau kota-kota Bandar perdagangan. Pertumbuhan yang cukup pesat ini mendorong masyarakat islam untuk membangun dan mengembangkan system pemerintahan dalam bentuk pemerintahan kerajaan-kerajaan. Suatu kerajaan islam dipimpin oleh seorang raja yang bergelar “sultan” dan pergantian tahta dilakukan secara turun-temurun. Dalam menjalankan pemerintahannya, seorang sultan harus berdasarkan pada Al-Quran dan Hadits Nabi.
Beberapa kerajaan di Indonesia yang mendapatkan pengaruh islam dlam system pemerintahannya antara lain kerajaan Mataram Islam. Banjar, Banten, Gowa, dan Aceh. System pemerintahan atau birokrasi pada rajanya bergelar “sultan” yang memegang kekuasaan tertinggi dan dibantu oleh seorang mangkubumi atau patih yang bertindak sebagai kepala pelaksana pemerintahan serta pejabat lain seperti ppara mentri, senopati, laksamana, syahbandar. Di daerah terdapat bupati-bupati atau wedana, disamping tyerdapat hubungan batin antara rakyat dengan keluarga rajanya.
Kaum ulama dan para pemuka agama seperti para kyai mendapat tempat tinggi di masyarakat. Masyarakt memandang para ulama sebagai pimpinan dan mereka mematuhi nasihat-nasihatnya. Golongan ulama yang terkenal pada abad ke-15 dan 16 adalah para wali yang berjumlah 9 orang (wali songo). Peran mereka bukan hanya tokoh pimpinan agama, melainkan juga tokoh masyarakat, ikut terlibat dalam pemerintahan untuk memberikan dan pandangan kepada raja, membangun masjid seperti di Demak dan Cirebon, dan turut aktif dalam pembinaan seni budaya seperti susnan kalijaga.
Raja beserta keluarga, pra pejabat istana, syahbandar, dan kaum ningrat lainnya beserta golongan ulama merupakan golongan atas dalam masyarakat saat itu. Diluar itu, terdapat lapisan masyarakat yang disebut wong cilik atau kawula, yaitu rakyat jelata yang terdiri atas para pedagang kecil, tukang, pengrajin, dan petani. Kawula merupakan golongan mayoritas dalam masyarakat.
Pengaruh tradisi islam selain telah mengubah system sosial budaya masyarakat seperti diatas, juga mempengaruhi pembentukan jaringan ekonomi dan intelektual dala masyarakat. Pelayaran perdagangan samudra oleh para saudagar Islam dari Arab, Persia, dan India telah meramaikan daerah-daerah pesisir di nusantara sebagai kota perdagangan dan pusat perkembangan agama islam, seperti Malaka, Banten, Jogjakarta, Cirebon, Demak, bahkan dibagian Timur Indonesia, seperti Makasar Tidore, Ternate, Bacan, dan Obi di Maluku. Antara kerajaan-kerajaan islam ini terjalin hubungan yang sangat erat dalam bidang perdagangan.
Perkembangan malaka sebagai pusat perdagangan islam, juga mendorong malaka sebagai pusat penyebaan Islam di Asia Tenggara. Hal ini disebabkan bahwa Bandar Malaka bukan saja sebagai tempat pertemuan kaum intelektual islam. Bahkan banyak para pedagang islam termasuk dari Indonesia dating ke Malaka bukan hanya untuk sekedar berdagang, tetapi juga memperdalam ajaran agama islam. Setelah pulang dari Malaka, mereka kembali ke daerahnya untuk menyebarkan agama islam. Para penyebar agama islam inilh sebagai kaum intelektual islam didalam masayarakatnya.
                 
Perwujudan Akulturasi kebudayaan Indonesia dengan kebudayaan Islami
Buktu-bukti telah terjadinya akulturasi kebudayaan asli Indonesia dengan kebudayaan islam dapat Anda lihat dalam wujud seni bangunan seperti pada majid, makam, eni rupa, dan seni sastra.
Dilihat dari seni arsitekturnya, mesjid-mesjid yang terdapat di Indonesia terutama pada mesjid-mesjid kuno berbeda dengan mesjid-mesjid di Negara lain. Kekhususan gaya arsitektur ini terlihat dari bentuk atapnya yang bertingkat lebih dari satu dan umumnya berjumlah ganjil yang disebut dengan “atap tumpang”. Bentuk atas lebih kecil daripada dibawahnya dan dibuat dengan kemiringan yang cukup tinggi. Bentuk ini didasarkan pada hasil kebudayaan asli Indonesia yaitu “punden berundak” dan disesuaikan dengan keadaan iklim tropis, sehingga air hujan dapat langsung turun dan tidak meresap kedalam masjid. Dinding mesjid pada umumnya memiliki banyak pintu yang juga berfungsi sebagai pentilasi udara. Denahnya berbentuk bujur sangkar dan ditambah dengan bangunan serambi didepan maupun disampingnya. Pondasi sangat kuat dan agak tinggi, dibagian depan atau samping terdapat kolam atau parit berair. Contohnya mesjid Agung Demak dan Mesjid Agung Banten.
 Makam sebagai tempat kediaman yang terakhir, diusahakan juga menjadi perumahan yang sesuai dengan orang yang dikubur. Pemakaman raja bentuknya seperti sebuah istana seakan-akan makam itu disemayamkan dengan tempat orangnya ketika masih hidup. Makan orang islam di Indonesia biasanya diabadikan atau diperkuat dengan ajaran islam yang melarang untuk menembok makam apalagi membuat rumah diatasnya.
Cangkup dan kubah didirikan sebagai bentuk penghormatan untyk mengenang orang-orang penting atas jaa yang dilakukan semasa hidupnya. Makam raja dan keluarganya merupakan suatu kompleks yang terdiri atas cangkup-cangkup atau jirat-jirat. Gugusan ini dibagi lagi dalam berbagai halaman menurut kelompok hubungan kekeluargaan. Masing-masing gugus dipisahkan oleh tembok-tembok, tetapi dihubungkan oleh gapura-gapura. Pada umumnya, letak sebuah makam pada lereng bukit dan sebuah masjid didirikan dikomplek pemakaman sebagai pelengkap. Sebagai contoh makam tertua di Indonesia adalah Makam Fatimah Binti Maimun (tahun 1082 M), dan makamnya justru diberi cangkup yang mirip candi. Hal ini dibuktikan bahwa masyarakat pada saat itu masih terikat pada bentuk candi. Kompleks pemakaman pada masa islam awal di Indonesia tidak jarang dipengaruhi budaya Hindu, seperti makam Malikul Saleh di Samudra Pasai. Selain itu, dalam kebudayaan islam di Indonesia juga dikenal makam-makam masjid, misalnya makam para wali dan raja-raja islam di masjid makam Banten, Demak, Kudus, dan Sendangduwur yang sampai saat ini masih dijiarahi.

Penulisan aksara-aksara (huruf-huruf) Arab di Indonesia biasanya dipadukan dengan seni Jawa. Penulisan arab ynag indah atau seni kaligrafi turut serta mewarnai perkembangan seni rupa islamdi Indonesia. Kalimat yang ditulis bersumber pada ayat-ayat Al-Quran maupun Hadist. Seni kaligrafi biasanya digunakan untuk hiasan pada bangunan-bangunan masjid, motif hiasan batik, otif hiasan pada senjata kuno seperti keris, hiasan pada batu nisan, maupun pada dinding rumah. Sampai saat iini kaligrafi masih terus berkembang di Indonesia, terutama dalam seni ukir yang dikembangkan oleh masyarakat jepara. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar